Namun di antara ketiga ini yang paling memainkan peran dalam membentuk masa depan Islam Indonesia justeru berada di tangan dua wujud Islam, yaitu revivalis dan liberal sebab keduanya model Islam ini bersikap ingin menguasai dan memiliki. Untuk itu, tidak mengherankan kalau keduanya saling memperluas jaringan dan pengaruh dalam wewujudkan
Islamsebagai ajaran boleh jadi punya rujukan yang sama, Al-Quran dan Al-Hadits, meski tafsir terhadap keduanya menghadirkan pemahaman yang beragam. Tetapi Islam sebagai kebudayaan dan peradaban menampilkan wajah yang lebih kompleks lagi. Terminologi 'Dunia Islam' mengandung kompleksitas itu, interpretasi Islam dalam konteks ruang dan waktu dengan segala problem serta dinamikanya.
MASADEPAN DUNIA ISLAM - Menurut hadits shahih, masa akhir zaman ini terbagi menjadi lima. Pertama, masa kenabian, saat Rasulullah masih hidup. Kedua, masa Khulafaur Rasyidin, mulai Abubakar, Umar, Usman, dan Ali.
MenurutAbdul Fattah, karakter holistik ini melekat pada enam poin, antara lain: (berbasis pandangan-dunia Islam, tetap sebagai ilmu sosial, dan bersifat normatif/ teleologis). Abdul Fattah kembali menerangkan bahwa Sosiologi Islam masa depan itu sudah memenuhi tiga pilar bangunan ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Dalamulasan ini akan dibahas mengenai makna Munirah beserta asal bahasa dan kumpulan rangkaian namanya. Munirah mempunyai arti: [1] Menerangi [2] Bercahaya [3] Terang, dan berasal dari bahasa Arab. Nama yang bermula huruf M dengan akhiran H ini cocok dirangkai menjadi nama depan, nama tengah, maupun nama panjang atau nama belakang.
Islammemberi perhatian serius kepada para pemuda. Masa muda adalah penentu nasib untuk sejarah kehidupan seorang manusia. Bahkan usia di saat muda menjadi salah satu yang akan dimintakan pertanggung jawaban di alam kubur . Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallambersabda : "Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari
Perangdingin sendiri merupakan sebuah peristiwa besar dunia yang menyebabkan runtuhnnya negara unisoviet dan berubah menjadi beberapa negara. Dalam buku ini, (Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, Samuel Huntington) memiliki 5 tema pusat yang berhubungan dengan identitas-identitas kebudayaan yang membetuk suatu pola-pola yang
2Dari sisi riset, Muqorrobin (2008) dalam artikelnya mengenai perjalanan eko-nomi Islam di dunia modern bahkan memetakan studi yang dilakukan oleh para akademisi ekonomi Islam. Menu-rutnya, penelitian ekonomi Islam lebih kurang 40% berkenaan dengan finance dan perbankan atau tidak kurang dari 1800 penelitian selama kurun 1994-
Subjekyang sedikitnya dalam tiga dasawarsa menjadi pembicaraan hangat di kalangan kaum Muslim maupun Barat. Tiga puluh dua tahun lalu, ketika abad ke-15 Hijriah bermula, terdapat kalangan Muslim di berbagai wilayah dunia Islam yang sangat optimistis dengan masa depan Islam. Mereka berpendapat abad 15 Hijriah adalah era 'kebangkitan Islam'.
Menabungadalah manifestasi dari dorongan membangun masa depan karena uang tabungan jika terkumpul bisa dijadikan modal usaha. Budaya menabung kebalikan dari budaya konsumeristik, yaitu menghabiskan uang untuk belanja sesuai keinginan, bukan kebutuhan, yang penuh dengan unsur berlebihan dan menghamburkan yang dilarang Islam (Sahal Mahfudh
gPwZ. BOGOR – Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masa depan. “Masa depan sangat diperhatikan dalam Islam,” kata Guru Besar IPB, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, saat mengisi pengajian guru Sekolah Bosowa Bina Insani SBBI di Masjid Al Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat, Jumat 12/10.Kiai Didin mengupas Alquran Surat Al Hasyr 59 ayat 18, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok akhirat, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”Kiai Didin juga mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW yang menegaskan, “Didiklah anak-anakmu dengan sebaik mungkin, yang sesuai kebutuhan zamannya, sebab mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu saat ini.”Melalui Surat Al Hasyr ayat 19, kata Kiai Didin, Allah menyuruh orang-orang beriman mempersiapkan hari esok dengan sebaik mungkin. “Masa depan itu tidak hanya di dunia, tidak kalah pentingnya adalah di akhirat. Masa depan itu harus direncanakan dengan baik. Masa depan harus kita desain dengan landasan iman dan takwa,” ujarnya. Mengambil semangat ayat Surat Al Hasyr ayat 19 dan hadis Rasulullah SAW di atas, hendaknya orang-oranga beriman mempersiapkan anak-anak mereka dengan sebaik mungkin. Hal itu penting agar mereka siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan.“Anak-anak kita harus kita bekali dengan iman dan takwa. Kalau hanya dibekali sains dan teknologi, tanpa iman dan takwa, bisa menjerumuskan mereka,” ujar Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun UIKA Bogor. Didin menambahkan, “Anak-anak kita boleh menjadi apa pun sesuai dengan bidang mereka. Mau jadi dokter, guru, pengusaha, politisi atau yang lainnya. Tetapi ada syaratnya mereka harus mempunyai landasan iman dan takwa.”Pentingnya menanamkan landasan iman dan takwa itu tidak hanya di rumah, tapi juga di sekolah. “Tujuan pendidikan adalah mendidik insan-insan yang beriman dan bertakwa. Sekolah harus mendidik para siswanya agar menjadi orang-orang yang memiliki landasan iman dan takwa yang kuat,” kata lalu mengutip pendapat para pendidikan, bahwa dalam pendidikan itu ada dua hal yang penting. Pertama, unsur-unsur yang tetap atau tidak boleh berubah, yakni keimanan, ketauhidan dan ketakwaan kepada Allah. “Ini tidak boleh berubah karena perkembangan zaman, sepanjang masa, kapan pun dan di mana pun,” yang boleh berubah sesuai perkembangan zaman. Contohnya metode mengajar. “Metode itu penting. Bahkan, metode itu lebih penting daripada sekadar materi materi pelajaran,” ujar Didin. Namun, ada yang lebih penting daripada metode, yakni guru. “Semangat guru dalam mendidik dan mengajar anak-anak muridnya dengan sebaik mungkin sangat diperlukan. Guru yang punya inisiatif dan variasi dalam mengajar, sehingga pelajaran terasa ada ruhnya dan murid-murid belajar dengan penuh perhatian,” papar Kiai Didin Hafidhuddin. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini